Langsung ke konten utama

The Karate Kid, bukan The Kung-fu Kid, tidak menemukan Karate-nya


Saat masih kecil, saya sangat menyenangi trilogi Film The Karate Kid.
Menurut saya, Karate Kid yang dibintangi Ralph Macchio yang berperan sebagai Daniel Larusso dan Pat Morita sebagai Mr Kesuke Miyagi, adalah salah satu film terbaik yang saya tonton pada tahun itu. Saat itu juga saya akhirnya ikut dalam les karate INKADO FORKI yang berada di Delta Surya Sidoarjo, beberapa bulan kemudian ada lomba dan kebetulan saya meraih juara 3 se-jatim. tapi ntu dulu boss, SMP.


Sebenarnya trilogi film The Karate Kid dirilis pada tahun 1980-an, tapi saya baru menonton film ini pada tahun 1990-an ketika salah televisi swasta menayangkan film ini. Pada masanya, trilogi film Karate Kid menjadi salah satu film yang masuk Box Office. The Karate Kid meraup US$ 90 juta di Amerika, Karate Kid II Us$ 115 juta dan Karate Kid III sebesar US$ 38 juta.

Columbia Picture selaku pembuat Film The Karate Kid, memproduksi film dengan tema yang sama, The Next Karate Kid. Tapi sayangnya, film yang diperankan Hilary Swank sebagai Julie Pierce dan Pat Morita sebagai Mr. Kesuge Miyagi tidak mampu mengulang kesuksesan trilogi The Karate Kid sebelumnya. Film yang dirilis tahun 1994 itu hanya mampu mendulang uang Us$ 8 juta.

Tapi sebenarnya bukan Film Karate Kid itu itu yang akan Saya bahas. Tapi Film Karate Kid terbaru yang dibintangi aktor kocak Jackie Chan dan putra aktor Will Smith, Jaden Smith.

Sebenarnya alur cerita Karate Kid anyar ini, hampir sama dengan film Karate Kid yang dirilis pada tahun 1984. Hanya saja, Karate Kid terbaru mengambil China sebagai latar ceritanya. Kisah dimulai dengan Dre Parker (Jaden Smith) yang terpaksa pindah dari Detroit di Amerika menuju China karena sang Ibu (Taraji P. Henson) mendapat pekerjaan di negeri Tirai Bambu itu.
“"Film ini menjadi salah satu tontonan menarik bagi anak-anak, apalagi saat ini tengah libur sekolah."”

Semula Dre sangat menikmati lingkungan barunya itu. Terlebih Dia berkenalan dengan pemain biola yang juga teman sekolahnya, Mei Ying, yang diperankan Wenwen Han. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama setelah dia bertemu Cheng yang diperani Zhenwei Wang, yang jago Kung-Fu. Cheng mulai mengganggu Dre karena kedekatannya dengan Mei Ying. Bisa ditebak, Dre yang hanya pandai menari tapi tak mahir bela diri menjadi bulan-bulanan Cheng dan teman-temannya.

Kemudian Mr Han (Jackie Chan) pegawai apartemen yang ditinggali Dre, membuat kesepakatan dengan Master Li yang diperankan Rongguang Yu, yang juga guru Cheng. Kesepakatan itu adalah Cheng tidak akan mengganggu Dre lagi, asalkan maju di Turnamen Kung-Fu. Perjanjian inilah yang membawa Dre mempelajari Kung-Fu. Mr. Han ingin membuktikan beladiri khas China itu digunakan bukan untuk menyakiti melainkan untuk menolong sesama.

Tapi film arahan sutradara Harald Zwart, hampir sama dengan film sebelumnya. Terlihat bagaimana Dre harus belajar mengenakan dan menaruh jaket pada sebuah tiang. Film sebelumnya pun bercerita bagaimana Mr Miyagi meminta Daniel untuk menggosok mobil. Kegiatan kehidupan sehari-sehari inilah yang menjadi pelajaran penting dalam Kung-Fu.

Kesamaan lainnya adalah pemakaian jurus andalan yang gerakannya awalnya nyaris sama. Jika film sebelumnya adalah jurus Bangau, di film ini memakai jurus ular kobra. Gerakan kedua jurus ini pun sangat mirip. Begitu juga dengan adegan, saat Jackie Chan menangkap seekor lalat tidak menggunakan sumpit, tapi membunuhnya dengan alat pemukul serangga. Mungkin ini plesetan dari adegan film sebelumnya saat Mr Miyagi menangkap lalat dengan sumpit. Tapi plesetan inilah yang membuat penonton tertawa.

Tapi sejak awal film hingga berakhir, saya tidak menemukan seni beladiri Karate, tapi hanya Kung-Fu. Karate hanya terlihat saat Dre memperagakan Karate dengan melihat sebuah tayangan video.

Buat saya, itu bukan masalah. Tapi film ini lebih menghibur dari film sebelumnya. Debut Jaden Smith di film ini juga cukup baik. Darah aktor sepertinya telah mengalir dari ayahnya, Will Smith. Belum lagi akting kocak, Jackie Chan menambah segarnya film ini.

Film ini menjadi salah satu tontonan menarik bagi anak-anak, apalagi saat ini tengah libur sekolah. Mahfum, belakangan ini kita jarang punya film  untuk anak-anak yang menghibur di tengah  serbuan film horor berbau porno buatan anak negeri.

Alasan lain karena film ini berhasil berada di puncak box office dengan mengumpulkan keuntungan sebesar US$ 56 juta.


blog.victoricohidayanto.com | source

Dapetin KEAJAIBAN dengan klik link ini:

Postingan populer dari blog ini

Sewa / Rental Motor di Surabaya

Sudah dua orang teman yang menanyakan tentang rental / sewa motor di surabaya, apakah memang ada? Bukannya motor lebih cepat hilang/dicuri daripada mobil? siapa yang mau menyewakan motornya? Naah, dari pertanyaan tersebut, ternyata memang ada tempat sewa / rental motor di Surabaya, namanya MotoRent, di Jakarta, motorent sudah memiliki banyak client (dalam hal ini adalah perusahaan yang memerlukan motor untuk pegawainya).

Penanganan Cyber Crime Butuh Keseriusan Semua Pihak

Upaya penanganan cybercrime membutuhkan keseriusan semua pihak. Ini mengingat teknologi informasi khususnya internet telah dijadikan sebagai sarana membangun masyarakat yang berbudaya informasi.   Begitu pula keberadaan undang-undang yang mengatur cybercrime, kata ERLANGGA MASDIANA Kriminolog Universitas Indonesia, memang diperlukan. "Akan tetapi apalah arti undang-undang jika pelaksana dari undang-undang tidak memiliki kemampuan atau keahlian dalam bidang itu. Dan masyarakat yang jadi sasaran dari undang-undang tersebut tidak mendukung tercapainya tujuan pembentukan hukum tersebut,”ujar ERLANGGA, dalam siaran persnya. ERLANGGA menjelaskan meski Indonesia menduduki peringkat pertama dalam cybercrime di 2004, namun jumlah kasus yang diputus pengadilan tidaklah banyak. Dalam hal ini angka   dark number   cukup besar dan data yang dihimpun Polri juga bukan data yang berasal dari investigasi Polri.

Kiat Atasi Konflik Pernikahan Tanpa Emosi

Bukanlah hal yang mustahil untuk menyelesaikan konflik tanpa menyulut emosi. Meredam konflik lalu membiarkannya berlarut-larut juga bukan merupakan ide yang bagus. Berikut beberapa langkah menyelesaikan konflik tanpa emosi 1. Klarifikasi Pastikan benar apa yang menjadi masalah Anda dan pasangan. Jangan sampai Anda sudah berbicara panjang lebar, namun tidak sesuai dengan apa yang dirasakan pasangan. Cobalah klarifikasi dulu hal-hal yang Anda berdua akan diskusikan. Salah pengertian bisa menyulut emosi Anda dan pasangan.