Langsung ke konten utama

Ketegangan Otak : Penyebab Sakit Kepala Ditempat Kerja





Kesejahteraan telah menjadi bagian dari peraturan dunia usaha-bisnis, karena banyak studi telah membuktikan bahwa kebugaran, kesehatan, dan kesehatan mental dapat meningkatkan produktivitas pegawai mereka dan mengurangi hari tidak produktif, yang akhirnya menghemat keuangan perusahaan.
Ada sejumlah persoalan fisik yang diketahui secara umum diantara para pekerja dan telah diarahkan. Kantor biasanya menyediakan tempat kerja secara ergonomis untuk mencegah sindrom tulang pergelangan tangan dan sakit punggung.
Bagaimana pun, the National Headache Foundation (NHF) baru-baru ini mengumumkan survei atas sakit kepala di tempat kerja dan 93% responden melaporkan bahwa atasan mereka tidak memberikan informasi atas pencegahan atau perawatan sakit kepala yang berkaitan dengan pekerjaan. 99% dari responden ini mengalami sakit kepala selagi bekerja, namun 66% responden menyatakan bahwa mereka tidak melaporkan sakit kepala mereka ke penyelia, sebab mereka tidak merasa bahwa para penyelia akan bersifat simpatik. Mereka juga tidak ingin dianggap seperti “kaum fakir atau tukang-mengeluh.”
Penting bagi tempat kerja untuk mengetahui masalah ini, sebab sakit kepala menyebabkan kehilangan hari produktif (separuh responden dilaporkan tidak hadir, satu — tiga hari per bulan), mengurangi produktivitas, dan kemampuan untuk berkonsentrasi, seperti halnya gangguan suasana hati (mood) dan perilaku mereka.
The National Headache Foundation (NHF) memberikan sejumlah tips untuk pencegahan sakit kepala di tempat kerja yang berkaitan dengan tekanan kerja, lampu TL (fluorescent), pancaran layar komputer dan kelelahan mata:
1. Carilah bantuan. Diskusikan hubungan antara sakit kepala Anda dan pekerjaan dengan pekerja medis yang bertugas. Dia dapat membantu Anda menentukan pilihan perawatan.
2. Jajaki sakit kepala Anda. Gunakan catatan harian sakit kepala, jejaki sakit kepala Anda untuk tiga bulan. Ambil buku catatan harian sakit kepala cuma-cuma dari www.headaches.org dan bawa hasil Anda ke pekerja medis profesional Anda untuk melihat dan menentukan apakah sakit kepala Anda dipicu oleh tempat kerja.
3. Singkirkan penerangan lampu TL (fluorescent).
4. Gunakan layar komputer anti-silau.
5. Gunakan headset sebagai pengganti gagang telepon.
6. Sempatkan mengambil istirahat sejenak secara teratur.
7. Desain ruang kerja secara ergonomis.




Menurut studi pengawasan tempat kerja yang dilakukan di Turin, Italia pada Mei 2008, sebagian staf pencatatan dan kantor pajak Turin diberikan serangkaian latihan postural dan relaksasi yang didesain oleh kepala penulis studi Profesor Franco Mongini dari the Headache and Facial Pain Unit at the University of Turin.
Pada kelompok yang diberikan latihan di sepanjang hari-kerja mereka, karyawan melaporkan adanya pengurangan 41% pada sakit kepala mereka dan 54% pengurangan pada sakit bahu dan leher.
Barangkali melakukan satu set postural dan relaksasi dapat sangat menolong karyawan yang menderita sakit kepala saat kerja.
Ini adalah satu latihan sempurna yang ditemukan di Breaking the Headache Cycle, buku karangan Novak Livingston:
Jangan bernafas tegang. Mulai dengan menarik nafas dalam-dalam melalui hidung, dan hembuskan melalui mulut dengan desau besar – “Ahh". Kemudian lanjutkan tarik dan hembuskan nafas yang difokuskan melalui hidung, dengan hitungan mundur mulai dari 4 sampai 1.
Lepaskan ketegangan otot. Duduk atau berbaring di tempat yang nyaman, dan hening beberapa menit untuk masuk ke dalam ketegangan tubuh anda. Hirup dan bayangkan oksigen penyembuhan dibawa ke area-area tubuh yang tegang di kepala, kulit kepala, wajah, rahang, leher, bahu, punggung, lengan, dan kaki. Hembuskan secara penuh dan dalam, lepaskan ketegangan dan sakit dengan masing-masing hembusan.
Susun kembali pemikiran negatif. Stres dan sakit secara otomatis membuat otak berpikiran pesimistis, menambah penderitaan. Lepaskan pemikiran yang tidak produktif ini begitu Anda mengenali, dan hadapi dengan pemikiran suportif, pemikiran menyembuhkan diri. Contoh pemikiran positif: “Saya menerima fakta bahwa saya sakit kepala, dan orang lain akan memahaminya.” dan “Saat ini saya harus memusatkan pikiran untuk merawat diri saya, maka saya pasti dapat melalui kesulitan ini sama halnya dengan yang pernah saya lakukan sebelumnya.” (blog.victoricohidayanto.com/Erabaru.net/The Epoch Times/feb)

Postingan populer dari blog ini

Sewa / Rental Motor di Surabaya

Sudah dua orang teman yang menanyakan tentang rental / sewa motor di surabaya, apakah memang ada? Bukannya motor lebih cepat hilang/dicuri daripada mobil? siapa yang mau menyewakan motornya? Naah, dari pertanyaan tersebut, ternyata memang ada tempat sewa / rental motor di Surabaya, namanya MotoRent, di Jakarta, motorent sudah memiliki banyak client (dalam hal ini adalah perusahaan yang memerlukan motor untuk pegawainya).

Penanganan Cyber Crime Butuh Keseriusan Semua Pihak

Upaya penanganan cybercrime membutuhkan keseriusan semua pihak. Ini mengingat teknologi informasi khususnya internet telah dijadikan sebagai sarana membangun masyarakat yang berbudaya informasi.   Begitu pula keberadaan undang-undang yang mengatur cybercrime, kata ERLANGGA MASDIANA Kriminolog Universitas Indonesia, memang diperlukan. "Akan tetapi apalah arti undang-undang jika pelaksana dari undang-undang tidak memiliki kemampuan atau keahlian dalam bidang itu. Dan masyarakat yang jadi sasaran dari undang-undang tersebut tidak mendukung tercapainya tujuan pembentukan hukum tersebut,”ujar ERLANGGA, dalam siaran persnya. ERLANGGA menjelaskan meski Indonesia menduduki peringkat pertama dalam cybercrime di 2004, namun jumlah kasus yang diputus pengadilan tidaklah banyak. Dalam hal ini angka   dark number   cukup besar dan data yang dihimpun Polri juga bukan data yang berasal dari investigasi Polri.

Kiat Atasi Konflik Pernikahan Tanpa Emosi

Bukanlah hal yang mustahil untuk menyelesaikan konflik tanpa menyulut emosi. Meredam konflik lalu membiarkannya berlarut-larut juga bukan merupakan ide yang bagus. Berikut beberapa langkah menyelesaikan konflik tanpa emosi 1. Klarifikasi Pastikan benar apa yang menjadi masalah Anda dan pasangan. Jangan sampai Anda sudah berbicara panjang lebar, namun tidak sesuai dengan apa yang dirasakan pasangan. Cobalah klarifikasi dulu hal-hal yang Anda berdua akan diskusikan. Salah pengertian bisa menyulut emosi Anda dan pasangan.